General Lecture ITI: Kupas Peran Sains dan Teknologi Menuju Indonesia Emas 2045
Tangerang Selatan, Senin (2 Februari 2026) — Peran sains dan teknologi dalam menentukan masa depan Indonesia kembali menjadi sorotan dalam General Lecture Institut Teknologi Indonesia (ITI) bertajuk “Peran Sains dan Teknologi Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan yang diselenggarakan secara hybrid ini membahas strategi transformasi ekonomi nasional serta upaya Indonesia keluar dari jebakan middle income trap menuju negara maju pada 2045.

Kuliah umum ini menghadirkan Prof. Bambang Permadi Brodjonegoro, S.E., M.UP., Ph.D. selaku Dean & CEO Asian Development Bank Institute (ADBI), sebagai narasumber utama. Diskusi dipandu oleh Ir. Gimin, S.T., M.Kom, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Bisnis, dan Kerja Sama ITI. Kegiatan ini diikuti sivitas akademika ITI, siswa SMA/SMK, serta masyarakat umum, menjadikannya forum strategis lintas generasi untuk membahas arah pembangunan berbasis sains dan teknologi.
ITI Dorong Literasi Strategis Saintek
Rektor ITI, Prof. Dr. Ir. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa General Lecture merupakan bagian dari komitmen ITI menghadirkan kegiatan akademik yang bernilai tambah dan berdampak nyata.

“Kuliah umum ini menjadi ruang berbagi pengetahuan strategis agar mahasiswa, dosen, pelajar, dan masyarakat memperoleh perspektif langsung dari pakar global. Ini penting untuk menyiapkan sumber daya manusia unggul yang mampu berkontribusi bagi Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Ia menambahkan, perguruan tinggi teknologi memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk mengaitkan pengembangan keilmuan dengan kebutuhan pembangunan nasional serta tantangan global yang terus berkembang.
Sinergi ITI–BRIN Perkuat Ekosistem Riset
Sejalan dengan tema kegiatan, Ketua Umum Pengurus Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI), Dr. Ir. Heru Dewanto, S.T., M.Sc. (Eng)., IPU, memaparkan arah strategis penguatan ekosistem riset ITI melalui rencana integrasi kembali ke dalam ekosistem Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Dalam rencana tersebut, ITI akan berstatus sebagai mitra Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) lahan selama 30 tahun bersama BRIN. Skema ini membuka peluang besar bagi mahasiswa dan dosen ITI untuk mengakses laboratorium riset mutakhir, terlibat dalam penelitian strategis nasional, serta memperkuat hilirisasi riset berbasis sains dan teknologi.
“Langkah ini memastikan peran sains dan teknologi tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menjadi motor penggerak inovasi dan daya saing bangsa,” tegas Dr. Heru.
Tantangan Middle Income Trap
Dalam paparannya, Prof. Bambang Brodjonegoro menekankan bahwa Indonesia masih berisiko terjebak dalam middle income trap. Untuk naik kelas menjadi negara maju, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi minimal 7 persen per tahun, yang hanya dapat dicapai melalui transformasi ekonomi struktural.

Menurutnya, transformasi tersebut harus menggeser ketergantungan pada ekspor komoditas mentah menuju produk dan jasa bernilai tambah tinggi berbasis teknologi dan inovasi.
“Hilirisasi bukan sekadar membangun pabrik, tetapi memastikan penguasaan teknologi, inovasi berkelanjutan, dan keterhubungan dengan pasar global,” jelasnya. Ia mencontohkan potensi strategis komoditas seperti nikel, rumput laut, dan pasir silika yang dapat menjadi fondasi industri masa depan jika dikelola dengan pendekatan teknologi tinggi.
Diskusi Interaktif dan Kolaborasi
Sesi diskusi berlangsung dinamis. Bahrudin, Guru BK SMAN 11 Tangerang Selatan, mempertanyakan lambatnya pemanfaatan bonus demografi serta tidak berlanjutnya sejumlah inovasi nasional. Menanggapi hal ini, Prof. Bambang mencontohkan Jepang pasca-Perang Dunia II yang berhasil bangkit melalui kualitas SDM, visi nasional yang jelas, dan keberanian mengarahkan talenta teknologi untuk kebutuhan masa depan.

“Talenta tanpa arah tidak akan berdampak. Inovasi membutuhkan visi jangka panjang,” ujarnya.
Sementara itu, Setiawan, mahasiswa Teknik Industri ITI, menyoroti tantangan riset yang kerap berhenti pada tahap prototipe. Prof. Bambang menekankan pentingnya kolaborasi erat antara perguruan tinggi, industri, dan pasar, dengan mencontohkan keberhasilan kolaborasi global Pfizer–BioNTech.

Sebagai perguruan tinggi teknologi yang didirikan atas prakarsa Prof. Dr.-Ing. B. J. Habibie, ITI terus menjaga warisan visi mencetak SDM unggul dan berdaya saing global. General Lecture ini menegaskan kembali peran strategis ITI dalam pembangunan nasional berbasis sains dan teknologi.
Melalui kegiatan ini, ITI mengajak generasi muda untuk bergabung dan menjadi bagian dari inovator masa depan. Pendaftaran Mahasiswa Baru (PMB) ITI telah dibuka melalui https://pmb.iti.ac.id/ dengan berbagai program studi unggulan dan peluang karier di sektor strategis menuju Indonesia Emas 2045.




















